Tan Malaka Diantara Madilog dan Gerpolek

Majalah News Letters FE Usakti,By:Irwan Wisanggeni(Ress Publica Institute)

NAMA Tan Malaka, lebih sering dikaitkan dengan ideologi Marxis. Jarang yang mengaitkan namanya sebagai tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus pemikir.
Secara sejarah politis, ada kesengajaan orde baru untuk melupakan peran dan pemikiran Tan Malaka. Pemerintahan Orde Baru menempatkan Tan Malaka sebagai tokoh politik kiri. Kamus beku politik saat itu menyamakan secara membabi buta ajaran marxis dengan komunis dan komunis indentik dengan kiri. Semua yang berbau kiri mesti dihapus dalam memori rakyat.
Lewat momentum 10 November 2010, hari pahlawan, penulis mencoba menggali kembali pemikiran-pemikiran Tan Malaka yang menarik dan masih relevan di era kekinian.
Bermula dari hal itu, penulis mencoba membuat telaah pustaka untuk mengangkat nama Tan Malaka sebagai objek kajian dengan tujuan sebagai penyeimbang informasi untuk mendekatkan sosok Tan Malaka ke dalam alur pikir generasi muda. Juga menegaskan bahwa ia adalah pejuang tanpa pamrih yang berjiwa nasionalis tinggi.

Riwayat
Tan Malaka di asumsikan lahir pada 2 juni 1897 didesa Pandan Gadang Sumatera Barat,dengan nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka sebuah nama khas Minang bernuansa Islam kuat.
Ia mengenyam pendidikan Rijks Kweekschool di Harlem, Nederland sekitar tahun 1913. Disebut-sebut sebagai murid cerdas, dan di situ pula Tan Malaka mulai membaca dan mempelajari pemikiran-pemikiran  Nietsche, Karl Max, Engels, dan berbagai tokoh filsafat lain.
Tahun 1919 Tan Malaka kembali ke Indonesia menjadi guru bagi anak kaum kuli perkebunan Senembah Way di Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Di sanalah ia sadar akan kekejaman kapitalis memperlakukan buruh perkebunan.
Menjadi guru hanya berlangsung kurang lebih 2 tahun, karena pada 1921 ia diangkat menjadi ketua Partai Komunis Indonesia (PKI)dan pada tahun itu pula Tan Malaka pindah ke Jawa.
Tapi pada 1926, setelah bentrok dengan pimpinan PKI yang lain seperti Sarjono, Alimin, dan Muso. Tan Malaka beranggapan pemberontakan terhadap Belanda pada 1926 adalah bunuh diri dan membunuh perjuangan nasional rakyat Indonesia.
Sejak saat itu dia memisahkan diri, memutuskan hubungan dengan PKI. Tan Malaka dituduh dicap sebagai seorang Trostkys yang antiLenin (saat itu garis PKI ke Lenin).
Kekhawatiran Tan  Malaka terbukti benar. Pemberontakan 1926 hanya menjadi riak kecil dibeberapa daerah. Pemberontakan itu dapat dengan mudah dipadamkan penjajah Belanda. Akibatnya, perlawanan nasional rakyat Indonesia mendapat pukulan berat. Mengalami kemunduran dan lumpuh bertahun-tahun.
Tahun 1927 Tan Malaka bersama Subakat, Djamaludin Tamin di Bangkok, Thailand memproklamirkan Partai Republik Indonesia PARI)dengan tujuan mencapai Indonesia merdeka. Perlu dicatat, 2 tahun sebelumnya Tan Malaka (1925) pernah menulis dan menerbitkan tulisan bertajuk Menuju Republik Indonesia (Naar de Republiek Indonesia). Tulisan ini menjadi sumber Inspirasi bagi pejuang intelektual di Indonesia di masa itu.


Murba

Tan Malaka kemudian merintis pembentukan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) pada  7 November 1948 di Yogyakarta. Partai ini adalah fusi dari Partai Rakyat, Partai Buruh Merdeka, dan Partai Rakyat Jelata.
Ideologi Partai Murba dinamai Murbaisme, merupakan bentuk formulasi tepat bagi keyakinan politik Tan Malaka. Bingkai Murbaisme adalah revolusi  nasional Indonesia, sedangkan isinya adalah revolusi sosial.
Murbaisme tidak sama dengan komunisme. Murbaisme memiliki ciri khas dalam menuangkan ide-ide nasionalisme yang membedakan dengan komunisme.
Dalam pemikiran Tan Malaka Murbaisme berbeda dengan ideologi Marxisme. Marxisme yang sebenarnya bersifat Internasionalis dan mengedepankan solidaritas kaum buruh sedunia, tanpa dibatasi kebangsaan. Sedangkan Murbaisme memiliki rasa nasionalisme menonjol yang jadi dasar  perjuangan Tan Malaka.
Bagi Tan Malaka revolusi Indonesia memiliki dua sisi, revolusi nasional adalah bingkainya dan revolusi sosial isinya. Revolusi Indonesia tidak cukup hanya pada revolusi politik, tapi hendaknya dilanjutkan dengan persaman-persamaan sosial.
Dalam Murbaisme disadari bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang selalu percaya akan adanya kekuatan lain diluar dirinya yang menguasai alam serta isinya, dan ini bersifat gaib.
Sejarah membuktikan bahwa masyarakat Indonesia selalu percaya dengan kuasa Adimanusiawi . Dan Tan Malaka beranggapan  masyarakat Indonesia tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Pemikiran yang sangat kompleks namun original, mangaku seorang sosialis dan materialis sekaligus ber Tuhan.
Madilog
Madilog adalah Matrialisme, Dialektika, Logika, buku Tan Malaka yang ditulis di gubuk reyotnya di Rawajati, Cililitan, Jakarta. Buku ini diselesaikan dalam waktu 8 bulan, mulai 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943.
Madilog adalah karya penting Tan Malaka, di samping berkeinginan untuk memberikan kontribusi metode berpikir bagi kaum proletar Indonesia. Juga salah satu bentuk manifestasi perlawanan pada penindasan dari Tan Malaka yang cukup brilian.
Ini bukti kuat betapa terobosan perjuangan Tan Malaka tidak hanya  membebaskan penindasan bangsanya dari penjajahan fisik yang kasat mata, lebih besar dari itu ialah bagaimana melepaskan dari penyakit kolonialisme mental yang akut. Kolonialisme mental itu adalah penyakit feodalisme, yang oleh Tan Malaka disebut berasal dari budaya ketimuran, dan sebagai akar bertahannya sistem penjajahan itu sendiri.
Madilog menyebutkan cara berpikir yang berdasarkan materialisme (berdasarkan kebendaan), dialektika (pertentangan) dan logika (rasionalitas).
Bau harum modernisme memang tampak akrab dengan Madilog, meski (modernisme) juga tidak boleh – seperti pesan Tan Malaka sendiri – dikultuskan. Tentu, karena Madilog bertujuan untuk menghancurkan feodalisme, perspektif modernisme barangkali untuk sementara waktu tepat dijadikan pemicu untuk melakuan pemberantasan terhadap budaya feodalisme.
Tan Malaka menerawang ke masa depan sekaligus menolak cara berpikir dogmatis, yang membuat orang bergerak menjadi ‘tukang hafal’. Inilah mengapa Madilog masih menemukan tempatnya di zaman ini dan mungkin mendatang. Seperti kata Tan Malaka, Madilog ditulis untuk memenuhi minimnya – kalau tidak dikatakan tidak adanya – pandangan hidup (weltanschauung) bangsa Indonesia.
Yang menarik Madilog ditulis dalam orisinalitas pikiran yang murni. Tidak banyak referensi yang digunakan, tapi ada beberapa nama yang berulang-ulang disebut seperti Plekhanov, Hegel, Marx maupun Engels.
Madilog tidak hanya berbicara masalah filsafat sebagai dasar, tapi juga berbicara masalah planet, matahari, bumi, rumus-rumus rumit trigonometri, juga banyak penemuan-penemuan modern yang tidak lepas dari bahasan Madilog. Temuan-temuan modern tersebut tidak hanya dikritik logika pikirnya, melainkan pada saat yang sama dicarikan juga jalan keluarnya.
Logika yang kaku: ya sebagai ya dan tidak sebagai tidak dipertanyakan. Menurut tan Malaka, logika seperti ini harus didialektikakan agar jawaban ya bisa berubah menjadi tidak dan sebaliknya.
Inilah nilai yang paling penting dalam Madilog. Madilog mengajari orang untuk belajar menolak pada setiap kepastian yang sebenarnya tidak pasti. Semuanya harus didialektikakan.
Dialektika, sebagai warisan pemikiran yang paling luhur dari Hegel –meski sudah diadopsi berulang-ulang oleh para pemikir filsafat Yunani kuno, Aristoteles, Heraklitos, Democritus – adalah penolakan terhadap segala bentuk kemapanan.
Tentu karena kemapanan adalah biang kerok dari kekuasaan yang status quo. Apalagi jika semangat kemapanan tersebut berada dalam mentalitas dan pemikiran rakyat. Pada saat yang sama rakyat tentu akan sulit melepaskan diri dari dirinya sendiri. Di sinilah kaum proletar butuh berpikir secara dialektis.
Walau sebagai cara berpikir yang berdasar atas Marxisme, Madilog lebih berat ke arah dialektika yang dirumuskan oleh Marx-Engels, dalam dialektika-materialisme, ketimbang seperti yang diasumsikan Hegel dalam dialektika idealis-nya. Marx-Engels, tidak seperti gurunya, Hegel, yang memaknai dialektika hanya pada pikiran dan melayang di awang-awang.
Marx-Engels mengatakan bahwa dialektika mesti menjelma menjadi gerakan materi yang kongkrit. Di sinilah titik bedanya. Jika dialektika idealis Hegel akrab dan dimonopoli orang-orang yang berkelimpahan (kaum borjuis), dialektika Marx-Engels akrab dengan kaum proletar yang miskin dan ditindas.
Berbagai persuasi menyebutkan bahwa Madilog ini tidak hanya relevan di zaman lampau, tapi juga dalam kekinian. Menurut penulis layak jadi bahan refleksi untuk membangun Indonesia hari ini dan masa yang akan datang.

Gerpolek.
Gerpolek Gerilya, Politik, dan Ekonomi adalah tulisannya di dalam penjara republik di tahun 1948. Ia menentang perang diplomasi yang dijalankan Pemerintahan Soekarno-Hatta.
Perang diplomasi adalah gagasan Sjahrir dalam menghadapi tekanan Imperialis dan kekuatan Belanda. Sjahrir memperhitungkan dukungan internasional untuk mengakui kemerdekaan Indonesia — terutama India, Mesir di forum PBB. Sebaliknya Tan Malaka dan Jenderal Soedirman tetap dengan konsep perang semesta — bergerilya.
Dalam konteks kesejarahan: akhir perjuangan perang diplomasi pun dimenangkan, berkat eksistensi Republik Indonesia  karena adanya Tentara Republik Indonesia dan rakyat yang bergerilya di seluruh Indonesia.
Tan Malaka mencemaskan kekalahan demi kekalahan di meja perundingan. Dia yakin sekali berhadapan dengan kolonialis dan imprialis, harus tegas tanpa  perundingan. Dan itulah bibit demokrasi — berbeda pendapat, baik strategis maupun yang bersifat taktis.  Sayang angkara murka mencatat ‘anak kandung revolusi terbunuh dalam proses revolusi itu berlangsung’.
“Sudah terpinggir kita terdesak! Itulah kalimat pertama Kata Pengantar buku GERPOLEK — berisi filosofis sikap pertarungan, dilanjutkan dengan kalimat “Sempitlah sisa ruangan yang tinggal bagi kita dalam hal politik, ekonomi,keuangan dan kemiliteran…”
Tan Malaka merisaukan makin menciutnya wilayah republik, berdirinya berbagai negara boneka. Kaum kapitalis, kolonialis dan imperialis berhasil mengacaukan perekonomian dan keuangan Republik Indonesia. Tan Malaka meradang di dalam penjara Madiun, dan akhirnya merumuskan konsep Gerilya – Politik – dan Ekonomi.
Ia menulis GERPOLEK tanpa dukungan informasi apa pun. Tembok dan jeruji penjara membatasi dirinnya untuk mendapatkan kepustakaan apa pun. ia hanya mengandalkan pengetahuan , ingatan dan semangat kepemimpinan untuk tetap memikirkan kelangsungan kemerdekaaan.
Tan Malaka menganggap Indonesia bertempur hanya dalam periode 17 Agustus 1945 sampai 17 Maret 1946. Sejak penangkapan tokoh-tokoh Persatuan Perjuangan, organisasi Tan Malaka tidak mengenal kompromi dengan kekuatan Kolonialisme dan Imperialisme. Ia tidak menyetujui perundingan dengan lawan. Ia menganggap berunding adalah sikap mengorbankan kedaulatan, kemerdekaaan, daerah perekonomian dan penduduk. Musuh harus dikikis sampai tuntas 100 persen.
Untuk menghadapi kerugian dan titik lemah alternatif perjuangan diplomatis, Tan Malaka tetap mengandalkan kekuatan perang gerilya. Gerpolek bersenjatakan Sang Gerilya untuk menghancurkan apa saja, siapa saja yang memusuhi Proklamasi Kemerdekaan.
Dalam tulisan ini pula, Tan Malaka menyatakan sikap tentang politik dan ekonomi. Ada paragraf yang mencerminkan kedalaman pemikiran Tan Malaka.
“Baru apabila para wakil rakyat dipilih oleh rakyat Indonesia melalui pemilihan yang demokratis (umum, langsung dan rahasia), baru apabila para wakil rakyat yang sesungguhnya itu memegang pemerintah Indonesia, di samping adanya kurang lebih 60 persen kebun, pabrik, tambang, pengangkutan dan bank modern di tangan rakyat Indonesia, barulah Revolusi Nasional ada artinya dan ada jaminannya bagi Murba Indonesia…” Sepuluh tahun kemudian, pada 1958, Indonesia melakukan nasionalisasi perkebunan dan aset Belanda.
Begitulah kira-kira sikap Tan malaka. Buat dia saat itu, ekonomi Indonesia tidak cukup diobati tapi harus dilakukan pembedahan. Dalam pemikirannya, perekonomian Rakyat Indonesia baru dapat diselenggarakan dalam Republik yang merdeka, sekurangnya memiliki dan menguasai 60% produksi, distribusi, upah, ekspor dan impor. “Negara yang hidup meminjam pasti menjadi hamba peminjam,” katanya saat itu.

Ciri pemikiran
Ciri khas pemikiran dan gagasan Tan Malaka ialah dibentuk  dengan berpikir ilmiah berdasarkan ilmu pengetahuan, bersifat Indonesia-sentris, futuristik alias memprediksi kedepan, terakhir orisinal, madiri, konsekuen, dan konsisten.
Ciri berpikir sistematis inilah yang akan menjadi obor untuk mengubah Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya.
Bagi yang pernah membaca karya-karya Tan Malaka dan memaknai pemikiran dan gagasan, melihat situasi dan mencermati kondisi yang berkembang, maka karya Tan Malaka bisa menjadi bahan pembanding. Terutama bagi generasi muda dan pemimpin bangsa yang menerima tongkat estafet pembagunan untuk mengisi kemerdekaan.
Seorang sejarawan Belanda DR Harry  A Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guvara Asia yang berani menantang dominasi ekonomi barat. Sayang pemikiran Tan Malaka yang banyak terbukti benar, tak begitu dikenal generasi muda. Pun di kalangan politikus dan ekonom yang mungkin tidak tahu atau sengaja tidak menahukan.
Seperti kelanjutan nasibnya, nasib sang pejuang kemerdekaan yang tidak banyak diketahui. Akhir hidupnya tersapu kabut misteri. Kuburnya pun sampai sekarang tidak diketahui. ***

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s