Menyoal Ledakan Penduduk Hasil Sensus 2010

Borneonews 01 November 2010

SENSUS 2010 menunjukan jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 238 juta jiwa. Meningkat signifikan dibandingkan dengan satu dekade lalu yang menunjukan angka 205 juta jiwa.

Pertanyaannya, akankah jumlah penduduk berdampak serius pada kehidupan politik, ekonomi maupun sosial sebuah negara?

Teori Malthus

Mari kita lihat teori Thomas Robert Malthus, seorang pendeta Inggris yang menerbitkan satu buku tipis tapi berpengaruh pada 1798, berjudul An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society.

Dalam esai orisinalnya, Malthus menyuguhkan idenya dalam bentuk sangat kaku. Dia awalnya beranggapan, penduduk cenderung tumbuh secara deret ukur (misalnya dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya), sedangkan persediaan makanan cenderung tumbuh secara deret hitung (misalnya, dalam deret 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya).

Kemudian Malthus menjabarkan pemikirannya dengan lebih sederhana, bahwa pertumbuhan penduduk cenderung melampui pertumbuhan persediaan makanan. Karena itu, Malthus berkesimpulan kuantitas manusia akan merosot ke dalam rawa kemiskinan alias berada ditubir kelaparan.

Dia berpandangan, dalam jangka panjang tidak akan ada kemajuan teknologi yang dapat mengalihkan keadaan itu, karena kenaikan suplai makanan terbatas, sedangkan pertumbuhan penduduk tak terbatas. Intinya, bumi tak mampu memproduksi makanan untuk menjaga eksistensi manusia.

Apakah teori Malthus terbukti benar? Latar dari penulisan Malthus ialah Revolusi Industri yang sedang berkumandang di Inggris Raya pada abad 18.

Saat itu sedang terjadi transformasi mendasar di bidang pertanian, industri manufaktur, pertambangan, dan transportasi yang berdampak luar biasa pada kehidupan sosial Inggris dan meluas ke negeri-negeri Eropa.

Saat itu Malthus tidak memasukan varibel terobosan inovasi teknologi pertanian, sehingga hasil pangan dapat terpenuhi walaupun terjadi ledakan penduduk.

Teknologi pertanian, peningkatan mutu bibit unggul, perbaikan sistem irigasi, serta teknik penyuburan tanah dengan berbagai teknik mengalami peningkatan yang dapat mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Itu semua tentunya seiring dengan pertambahan pasokan pekerja yang jumlahnya bertambah signifikan.

Meski demikian ramalan (teori) Malthus yang lebih sering dikenal dengan istilah Jebakan Malthus atau The Malthusian Trap tetap memunculkan kekhawatiran.

Kekhawatiran

Indonesia belakangan khawatir dengan kemungkinan terjadi baby boom. Program keluarga berencana pun kembali digalakkan, karena pertumbuhan 1,3% penduduk yang sekarang dicapai berarti penambahan sekitar 3,5 juta orang pertahunnya. Itu berarti pertumbuhan penduduk Indonesia hampir sama dengan jumlah penduduk Singapura.

Angka itu tentu mencemaskan. Namun, Indonesia pada dasarnya berhasil menekan laju pertumbuhan penduduknya. Dari 2,3 persen pertahun pada 1971-1980 menjadi 1,4 persen di dekade 1980-2000, dan kini diperkirakan menurun lagi menjadi 1,3 persen 2005-2010.

Data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan, angka kesuburan wanita usia produktif (total fertility rate) turun dari 5,61 persen pada tahun 1971 menjadi 2,35 pada 2007. Bahkan menurut statistik BPS, total fertility rate Indonesia sudah lebih rendah dari angka tersebut, tidak sampai 2,2.

Itu berarti jika mengacu pada pendapat para ahli, total fertility rate yang bisa menjaga stabilitas kependudukan hanya tinggal menurunkan 1 poin menjadi 2,1.

Kepala BKKBN Sugiri Syarief pernah mengeluarkan pernyataan, idealnya jika Indonesia ingin memacu maksimal pertumbuhan ekonomi hingga 10 persen pertahun, pertumbuhan penduduk harus di bawah 1 persen per tahun.

Jika tidak, maka kekhawatiran atas kejar-mengejar antara jumlah penduduk dan ketahanan pangan tetap akan terjadi. Paling tidak itulah yang pernah disiratkan Wakil Presiden Boediono. Lalu, apakah kekhawatiran Wapres soal peningkatan penduduk beralasan?.

Pendidikan dan Kesehatan

Menurut penulis, kekhawatiran Wakil Presiden Boediono tidak terlalu beralasan. Tetapi bahwa di balik pertumbuhan penduduk ada sesuatu yang harus dibuat oleh pemerintah, jawabannya adalah iya.

Pertanyaannya, bagaimana pemerintah bisa membalik keadaan, dengan menjadikan pertambahan penduduk menjadi suatu kekuatan bukan sebaliknya. Caranya tentu dengan meningkatkan kualitas penduduk dan memberdayakan mereka secara ekonomi.

Sambil menggenjot kualitas SDM, program semacam Keluarga Berencana terus dilanjutkan. Kenyataannya, saat ini banyak negara yang jumlah penduduknya terus berkurang. Pemerintahnya menjadi panik, karena warganya sudah tidak mau lagi mempunyai anak.

Ke depan jika berbagai program pengetatan penduduk berhasil, maka diprediksi paling banyak satu keluarga mempunyai dua anak. Meski demikian, jumlah penduduk di dunia jelas akan terus tumbuh. Positifnya, penduduk yang banyak bisa menjadi modal utama bagi pembangunan suatu negara. Tetapi tentu saja diperlukan penduduk yang terdidik, sehat dan memiliki skill, sehingga dapat dijadikan capital investment untuk tonggak penopang yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Jadi menurut penulis, pendidikan dan kesehatan merupakan hal utama dalam menciptakan penduduk yang dapat berkonstribusi terhadap jalannya pembangunan dan produtivitas nasional.

Atas dasar ini, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyediakan dan memfasilitasi penduduknya agar mendapat pendidikan yang hasilnya bergaris lurus dengan penguasaan teknologi dan keterampilan teknis yang digunakan di lapangan pekerjaan.

Tanggung jawab lainnya ialah menyediakan fasilitas kesehatan memadai berupa rumah sakit, obat-obatan dan tenaga medis.

Dua faktor inilah yang bisa dijadikan senjata untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga pertumbuhan penduduk menjadi kekuatan bukan beban dan bahaya yang selalu dirisaukan.

Jika itu dilaksanakan dan pemerintah terus menjaga laju pertumbuhan penduduk lewat program Keluarga Berencana (KB), maka ledakan penduduk dapat dilihat dari kacamata positif.

Indonesia bisa bercermin kepada negara-negara seperti China dan Jepang yang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan bergantung pada kualitas penduduk, walaupun sumber daya alam mereka terbatas.

Pertumbuahan penduduk yang dikolaborasikan dengan kebijakan ekonomi yang bagus dan terus berjalan seiring dengan derap infrastruktur maupun kemajuan teknologi, dipastikan akan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi. Akhirnya, ‘hantu’ ledakan penduduk tidak akan selalu menjadi momok menakutkan.

Irwan  Wisanggeni

Ress Publica Institute

ilustrasi:maryboonegallery.com

2 Komentar

  1. Perlu waktu panjang untuk mensejajarkan Indonesia dgn China dan Jepang, mengingat rata-rata lama sekolah di Indonesia masih sekitar 7-8 th. artinya sebagian besar besar penduduk di Indonesia baru duduk di kelas 1-2 SLTP, dgn sendirinya kualitasnya rendah. Penduduk yg demikian akan menjadi beban pembangunan, ditambah lagi prioritas pembangunan di bidang pengendalian pertumbuhan penduduk relatif kurang dibandingkan dgn prioritas pembangunan di baidang ekonomi., seharusnya sama-sama. Jadi kemungkinan terjadinya ledakan penduduk bisa saja terjadi.

    • bener sekali sobat sokierno tapi harus dimulai dr sekarang soal pendidikan kita yg jalanya seperti ini…carut marut dan juga salah penanganan…shg mutu dr SDM kita rendah dibanding negara lain…contoh mengapah pelajaran bahasa iinggris dan ketrampilan tdk difokuskan sedini mungkin


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s