Lebih Mengenal Tirto Adhi Suryo

Media Indonesia/Rubrik Forum 22 Oktober 2010

PADA tanggal 10 November 2006, sekitar tiga tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka memperingati hari pahlawan memberikan gelar pahlawan nasional kepada beberapa pejuang. Salah satunya adalah RM Tirto Adhi Suryo.

Nama Tirto Adhi Suryo tidak begitu dikenal di kalangan masyarakat umum. Padahal, sepak terjangnya sangat besar terhadap dunia ‘pergerakan’ melawan kolonialis Belanda.

Tokoh Adhi Suryo memang sempat dipublikasikan lewat karya-karya sastrawan garda depan Indonesia almarhum Pramoedya Anantatoer. Tokoh Minke dalam Tetralogi Buruh yang dikarang Pram memang mewakili seorang Tirto Adhi Suryo, tetapi tetap belum bisa membuat dirinya dikenal dalam masyarakat Indonesia.

Tirto lahir dari keluarga priyayi Jawa ini terlihat jelas dari namanya. Beliau mendapatkan pendidikan Belanda di HBS Wonokromo-Surabaya lalu berlanjut ke sekolah kedokteran untuk pribumi Jawa Stovia di Batavia (tidak tamat).

Alam pikiran Tirto berkembang karena banyak bergaul dengan kaum terdidik dan membaca literatur Barat yang menjadikan dirinya gelisah melihat keadaan bangsanya yang selalu ditindas dalam kemiskinan dan kebodohan.

Ia seperti ‘cacing kepanasan’ menghadapi situasi ini maka tercetuslah ide untuk melakukan perlawanan dengan berorganisasi. Syarikat Priyayi (1906) nama organisasi yang dibentuk Tirto Adhi Suryo, yakni salah satu penyokongnya adalah Thamrin Muhamad Tabrie (kakek Muhamad Husni Thamrin).

Organisasi ini kurang bisa membesar karena anggotanya hanya sebatas golongan priyayi tidak menyentuh masyarakat segala lapisan. Untuk itu Tirto Adhi Suryo mengubah gaya perlawanannya dengan cara menulis, melawan dengan pena.

Bersama Mas Marco Kertodikromo ia mendirikan surat kabar Medan yang berbahasa Melayu Franca (konon harian Medan adalah koran pertama yang terbit dalam bahasa Melayu).

Tulisan-tulisan Adhi Suryo begitu tajam bak pisau belati menancap, membuat pembacanya seperti tertikam dan muntah darah, kritik-kritiknya ditunjukkan kepada pembesar yang tidak patut sebagai upaya untuk memperbaiki keadaan sosial.

Aksi mereka berdua ini dalam sejarah pers Hindia membuka babak baru yang antara lain memberi jalan bagi lahirnya pers nasional di kemudian hari. Karena kritik-kritiknya yang tajam kepada pemerintah Hindia Belanda akhirnya Koran Medan diberangus.

RM Tirto Adhi Suryo di buang ke Indonesia bagian timur, sepulang dari pembuangan ia terkena penyakit paru-paru akut, akhirnya ia meninggal dan jenazahnya dikubur di perkuburan Mangga Dua Jakarta.

RM Tirto Adhi Suryo siapa sih sampeyan? Sampeyan adalah sang pemula dalam dunia pergerakan, perintis kemerdekaan, Tokoh Pergerakan Nasional dan Bapak Wartawan Indonesia.

Akankah ada Tirto, Tirto lainnya yang mau berkorban untuk kepentingan bangsanya? Momentum 28 Oktober (sumpah pemuda) dan 10 November(hari pahlawan) menyemangati generasi muda untuk merenungkan hal ini dengan sedalam-dalamnya, mencuri semangat dan keberanian Seorang Tirto Adhi Suryo karena hakikat seorang pemuda adalah membuat perubahan di alam bangsanya, tetapi yang malas akan tersingkir dan tersipu malu.***

Irwan Wisanggeni
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Trisakti

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s