MIMPI MAHASISWA TUA

Hari ini kami datang, bersama bunga dan sejuta pekik sebagai tanda kasih serta keteguhan kami demi keadilan…karena kami yakin bahwa reformasi merupakan keharusan.  (Sepenggal kalimat yang ditorehkan di Tugu Pahlawan Reformasi di depan Kampus Trisakti)

SORE itu gerimis membasahi kampus Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Saya berdiri tegak di depan Tugu Pahlawan Reformasi. Pikiran langsung menerawang duabelas tahun silam dimana rekan-rekan mahasiswa angkatan 98 bergerak melawan rezim Soeharto.
Di tempat itu, kami berkumpul untuk berkata TIDAK pada Soeharto dan pengikutnya. Di situ pula 4 mahasiswa, Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie dan Heri Hartanto terkapar berlumuran darah. Tidak bernyawa diterjang kebengisan peluru aparat.
Dunia mahasiswa adalah dunia yang menyenangkan. Belajar, mendengarkan  dosen mengajar, walau walau kadang membosankan. Ketika ujian semua sibuk belajar di perpustakaan dan laboratorium. Dunia mahasiswa juga dunia diskusi, ngbrol ngalor-ngidul bersama kawan sealmamater tentang berbagai persoalan.
Hakekat pemuda juga ada dalam diri mahasiswa. Mereka memerlukan kegiatan rileks seperti membuat pagelaran musik, berorganisasi, mendaki gunung atau menonton film bersama. Sekali-kali mereka juga mendekati mahasiswi dengan lelucon-lelucon murahan. Dunia yang penuh warna dan canda.
Tetapi ketika terjadi situasi genting, para mahasiswa bersikap tegas dan berani. Mereka hadapi sangkur dan peluru tentara. Mereka turun ke jalan berdemonstrasi. Demokrasi dan rule of law harus ditegakkan, walaupun mereka harus berhadapan dengan tembok kekuasaan yang paling  keras sekalipun.

Sikap Resi
Peristiwa Mei yang memasuki usia Dua belas tahun (1998-2010), menjadi momentum besar buat dunia pergerakan mahasiswa untuk mengingat istilah resi yang dicetuskan prof DR Arief Budiman.
Seorang resi yang mendengar dan mengetahui keadaan buruk akan bergegas turun gunung meninggalkan pertapannya dengan harapan bisa mengubah keadaan. Jika keadaan sudah membaik, sang resi akan kembali ke pertapaan. Tidak memiliki pamrih apapun.
Penulis beranggapan mahasiswa angkatan 98 melakukan fungsi resinya dengan baik. Tidak ada yang memiliki pamrih sedikitpun. Yang ada hanya keinginan mengubah negeri menjadi lebih baik lepas dari cengkraman  rezim Soeharto. Mereka namakan gerakan MORAL dan REFORMASI.
Sikap resi mahasiswa angkatan 98 yang tidak memiliki pamrih, semoga dapat menjadi bahan bakar untuk mahasiswa sekarang.

Buah Reformasi
Sekarang, para mahasiswa angkatan 98 telah lulus, keluar dari kampus. Ada yang bekerja sesuai dengan ilmu yang dikuasai, ada yang terjun menjadi penggiat LSM, menjadi peneliti atau melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi. Hanya sedikit yang masuk di dunia politik. Kebanyakan memilih menjaga jarak dengan kekuasaan dan hidup sebagai orang biasa di tengah lingkungannya masing-masing.
Ketika bertemu kembali dengan kawan-kawan se-angkatan, mereka akan terus bercerita tentang Indonesia yang masih jauh dari impian maupun cita-cita perjuangan mereka.
Kadang helaan napas jadi pertanda kecewa melihat keadaan sekarang. Menyadari bengkaknya angka kemiskinan(36-37juta jiwa) dan penganguran  (11,6juta). Data terakhir 900.000 sarjana menganggur.
Gerbong besar reformasi seakan menabrak bukit cadas. Seperti itulah nasib rakyat kecil sekarang. Sebagai penumpang gerbong reformasi mereka mejadi susah.
Kekecewaan juga kerap mampir saat melihat kaum reformis yang tadinya berpihak kepada rakyat setelah mendapat kursi empuk di parlemen, menjadi pejabat negara atau pengurus partai besar lupa pada tujuan semula.
Mereka berubah wajah menjadi koruptor kelas kakap. Ambil contoh mantan kepala BKPM Theo F Tomeon, mantan anggota Komisi pemilihan Umum Mulyana W Kusuma yang akhirnya terjerat hukum. Padahal seingat penulis, kedua orang tersebut sering mengikuti talk show, mewakili golongan reformis.

Reformasi ke depan
Apa pun yang terjadi, di dunia ini, akan terus bergulir reformasi disegala bidang, sesuai perdaban dan perkembangan teknologi.
Namun, penulis yakin pada akhirnya akan muncul ketidakpercayaan terhadap gerakan reformasi yang sebelumnya terjadi, hingga memunculkan gerakan baru. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan itu.
Seorang Profesor Sejarah Jerman Jurgan Reulecke pernah menulis, “Reformasi selalu menjadi duri dalam daging.“
Menurut penulis opini dari profesor sejarah tersebut benar adanya. Jika kita sandingkan dengan keadaan reformasi ala Indonesia yang cita-citanya dikhianati oleh para reformis sendiri, bukankah gerakan reformasi menjadi seperti duri buat perubahan itu sendiri?
Misalnya ketika para wakil rakyat di parlemen yang sebagian dulunya adalah kaum reformis ikut menyetujui kenaikan harga BBM dan tidak bersuara ketika ada penggusuran pedagang kaki lima. Pada akhirnya, ada segudang persoalan rakyat kecil yang diabaikan oleh mantan kaum reformis yang sudah duduk manis di parlemen. Ini yang pada akhirnya akan memunculkan gerakan reformasi baru.
Jika kita membaca sejarah pergerakan, arus perubahan sudah pasti ada di tangan pemuda(mahasiswa). Rentetan peristiwa besar dimotori oleh pemuda. Pemuda Soekarno, Hatta, Tan Malaka, di era 1920-1930 an memelopori untuk mencapai Indonesia merdeka.
Setelah zaman itu muncul DN Aidit, Wikana, Sukarni dengan semangat memerdekan mengumpulkan rakyat di lapangan Ikada untuk menyatukan  cita–cita, Indonesia harus merdeka.
Di tahun 1960-an muncul Akbar Tanjung, Soe Hok Gie, Marsilam Simanjuntak, dan pemuda-pemudi yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI). Mereka inilah yang membidani kelahiran Orde Baru.
Kemudian muncul pemuda dan mahasiswa menjadi the highest power yang menumbangkan rezim otoriter Soeharto.
Semua itu membuktikan, pemuda (mahasiswa) masih menjadi kekuatan moral dialam bangsa ini.
Mimpi seorang mahasiswa tua seperti saya sangatlah sederhana. Stop kemiskinan, stop kekerasan, dimana masiswa, buruh, petani, nelayan, birokrat bersatu dan sibuk membangun suatu negeri yang lebih baik.
Mimpi ini hanya dapat diwujudkan dengan peran mahasiswa untuk terus menkontrol jalannya pemerintahan dan cita-cita reformasi agar mencapai pemerintahan yang bersih dan efektif.
Atas dasar ini penulis berpendapat (dalam kapasitas sebagai seorang mahasiswa tua pula) bahwa gerakan mahasiswa harus terus berlanjut karena reformasi belum selesai dan mungkin tidak akan pernah selesai.
Akhir kata, semua angkatan muda yang berada di jalan kebenaran, tetaplah kritis dan cerdas. Berjuanglah demi rakyat kecil yang perlu dibela. ***
————————————————————————
Irwan Wisanggeni

1 Komentar

  1. kadang kalo udah dpt posisi enak diatas… hehehe.. jd males lg turun ke bawah…. lupa kalo dulu pernah berkeringat ria memperjuangkan reformasi… udah males kaki kena becek2 jalanan lagi…. kemana perginya semangat reformasi…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s