MAY DAY DAN NASIB BURUH KE DEPAN

Oleh: Irwan Wisanggeni

Bisnis Indonesia, 01 Mei 2010

Proletar of all countries,unit! (segenap kaum buruh didunia, bersatulah!) -Karl Max 1818-1883

1 Mei selalu diperingati  sebagai hari buruh sedunia atau disebut juga May Day. Biasanya buruh di hampir semua negara melakukan demonstrasi, dengan satu niatan, memperbaiki nasib mereka.

Asal Muasal

Pada zaman Roma kuno,  hari pertama di bulan Mei selalu ramai dengan perayaan festival Floralia. Dinamai demikian untuk menghormati flora sebagai dewi musim semi dan bunga. Di situlah waktu untuk bernyanyi, menari, dan mengadakan parade bunga.

Pada waktu orang Romawi menaklukan negeri-negeri lain, mereka mempekenalkan kebiasaan Floralia, yang kemudian berkembang menjadi May Day. Bagaimana Asal muasalnya sampai menjadi Mayday?

Parade dan demonstrasi May Day modern dimulai di Amerika Utara. Mengapa di sana? Revolusi Industri telah menghasilkan mesin-mesin baru yang dapat beroperasi terus menerus, sehingga para pemilik pabrik sering meminta pegawai mereka untuk bekerja sampai 16 jam setiap hari.

Dalam upaya meningkatkan  kehidupan para pekerja, sebuah federasi perdagangan dan serikat buruh di Amerika Serikat dan Kanada mengajukan tuntutan untuk bekerja delapan jam yang dimulai tanggal 1 Mei 1886. Pada umumnya, para majikan tidak mengabulkan, sehingga pada hari pertama bulan Mei, para pekerja mengadakan aksi demonstrasi.

Martir-martir  gerakan buruh di Amerika Serikat gugur dalam peristiwa kerusuhan Haymarket di Chicago, Illonois. Para pekerja di Belanda, Inggris, Italia, Perancis, Rusia , Spanyol ikut mogok.

Pada 1889 sebuah rapat kongres partai-partai sosialis dunia di Paris menyatakan  1 Mei 1890 akan menjadi hari Demokrasi Internasional untuk mendukung hari  kerja delapan jam. Sejak saat itu, 1 Mei menjadi peristiwa tahunan bagi para pekerja untuk menuntut kondisi kerja yang lebih baik.

Di republik –republik bekas Uni Soviet, May Day dirayakan dengan parade militer dan pameran pencapaian teknologi. Dewasa ini banyak negeri (misalnya China) memperlakukan hari libur yang disebut Hari Pekerja Internasional  pada hari pertama bulan Mei. May Day juga menjadi hari libur nasional dalam kelender negara-negara Sosialis.

Seperti May Day Kuno, Hari Pekerja Internasional diperingati dengan parade melintasi jalan-jalan. Namun, kadang kekerasan menyertai aksi tersebut. Contohnya dalam perayaan May Day tahun 2000, ketika terjadi unjuk rasa sedunia menentang kapitalisme global. Protes-protes pada saat itu dinodai perkelahian, cedera, dan kerusakan properti .

Begitu juga yang terjadi di Indonesia. Seingat penulis saat perayaan May Day 2006,  ketika para buruh menolak  revisi UU no 13/2003, sempat diwarnai kekerasan di depan gedung DPR-MPR Jakarta.

Perjuangan buruh ke depan adalah mengubah nasib dengan mempertahankan hak-hak buruh yang memang menjadi haknya, tapi bukan dengan cara-cara kekerasan.

Uang Pesangon

Dari berbagai pernyataan manajer dan eksekutif ,  selalu mendengar ungkapan bahwa aset yang paling berharga dalam perusahaan ialah Sumber Daya Manusia (SDM).  Jika kita jujur, dalam perusahaan itu perkiraan  kas, aktiva tetap,  aktiva berwujud dan tidak berwujud non manusia lainya  sebenarnya dikendalikan oleh manusia .

Penulis menilai, tanpa SDM perusahaan   sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mendapatkan keuntungan maksimal  atau menambah nilai dari perusahaan tersebut. Sebab, manusialah yang menciptakan nilai tambah itu. Di luar manusia adalah aktiva pasif yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa intervensi kebijakan manusia.

Atas dasar itu,  perusahaan perlu mengaspresiasi peran pekerja atau buruh. Tapi perusahaan-perusahaan yang berbasis pada pemikiran ekonomi kapitalis kadang tidak menghargai tenaga kaum buruh. Mereka lebih mengutamakan peran mesin –mesin produksi yang dipandang lebih menguntungkan.

Karl Max dalam teori capital structure menjelaskan bagaimana perspektif kapitalis dalam menilai peran buruh dan mesin produksi. ”Semakin tinggi gaji buruh , bila dibanding harga mesin,membuat keuntungan makin rendah. Semakin tinggi harga mesin bila dibanding dengan gaji buruh, makin tinggi pula keuntunganya.” (Madilog:173)

Dari analisa Karl Max, penghasilan  buruh tidak banyak  diperhatikan. Bahkan beberapa ketentuan yang sudah berlaku umum di Indonesia ingin di revisi. Misalnya pesangon untuk buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) ingin ditiadakan. Jelas ini ketentuan yang menekan kaum buruh.

Ketentuan  pembayaran uang pesangon memang dapat disalahgunakan para pekerja yang kurang disiplin dan kurang bertanggung jawab. Menghadapi kasus seperti itu, serikat pekerja perlu mendukung manajemen di perusahaan, dalam arti tidak harus membela buruh.

Dengan demikian, pengusaha tidak merasa perlu diberatkan dengan mambayar pesangon. Selama ini, kesan  yang muncul, pekerja yang menarik diri dan membuat kesalahan berat tetap berhak mendapat pesangon dan penghargaan masa kerja. Sejatinya dalam kasus seperti ini pengusaha tidak wajib membayar pesangon.

Apabila dengan tujuan efisiensi, manajemen persusahaan perlu mengurangi pekerja dengan mem PHK buruh, maka pengusaha berkewajiban membayar uang pesangon sesuai ketentuan Undang-Undang tenaga kerja yang berlaku.

Langkah-langkah persiapan perlu di buat perusahaan untuk mengantisipasi PHK dan pesangon. Pengusaha perlu menyisihkan 5 sampai 10 persen gaji tiap pekerja dalam 10 tahun pertama, setelah itu cukup 3 sampai 5 persen.

Disamping itu perusahaan perlu membayar dan memasukan buruhnya dalam program Jamsostek dan pwnsiun. Hitungannya, kurang lebih total semua tunjangan untuk persiapan pesangon dan Jamsostek 20 persen dari gaji pekerja.

Jumlah ini masih relatif kecil dibandingkan dengan konstribusi untuk jaminan sosial buruh di Singapura, Malaysia, Amerika Serikat dan negara- negara Eropa.

Sistem manajemen  perusahaan perlu terus ditingkatkan dengan menerapkan prinsip-prinsip perencanaan tenaga kerja, pelatihan, dan evaluasi kinerja, sehingga tercipta sinergi antara perusahaan dan pekerja. Menciptakan situasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak, sehingga angka pekerja yang di PHK dapat ditekan seminim mungkin.

Pekerja Kontrak

Sistem kerja kontrak memang dinilai masih menguntungkan pihak perusahaan karena sistem ini tidak mengikat pengusaha. Posisi pekerja pun lemah, sewaktu-waktu dapat di PHK tanpa pesangon kerena tidak terikat sebagai pekerja tetap.

Sistem kontrak bisa diterapkan hanya untuk tujuan melihat dan mengukur tingkat kemampuan, sikap dan disiplin dari seorang pekerja. Tapi sistem kontrak ini tidak dapat diberlakukan terus menerus dan permanen. Ada jangka waktu tertentu (misalnya 1 tahun ), setelah itu pekerja diangkat menjadi pegawai tetap.

Pihak pengusaha cendrung memanfaatkan atau menyalahgunakan kelemahan perumusan pasal-pasal UU No:13/2003 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PWKT) dan pekerjaan kontrak. Untuk menghindari itu  Departement Tenaga Kerja perlu menerbitkan penjelasan atau interprestasi  pasal-pasal tersebut, agar bisa  digunakan sebagai acuan manajemen dan serikat pekerja di perusahaan, para mediator, konsiliator, arbiter dan para hakim pengadilan hubungan industrial. Jika tidak, situasi ekonomi dimasa mendatang yang kian sulit akan menempatkan buruh pada posisi tawar yang kian rendah.

Selayaknya disadari bersama, Undang-Undang Tenaga Kerja akan menjadi aturan normatif yang mengikat buruh bertahun-tahun ke depan. Karena itu, kalangan serikat pekerja secara kolektif perlu menyetujui batas minimum kompromi yang dapat ditoleransi, terutama hal psinsip seperti sistem kontrak, outsourcing, upah dan besarnya pesangon.

Situasi ekonomi makro yang menyebabkan krisis ekonomi seperti suku bunga yang tingi, rendahnya daya beli, segala bentuk pungli, biaya birokrasi, tarif pajak yang tinggi,  ketergantungan pada bahan baku import, hancurnya pasar domestik, rendahnya produktivitas dan teknologi dan daya saing, adalah tanggung jawab pemerintah.

Penulis beranggapan faktor-faktor  di ataslah yang menjadi penyebab terjadinya krisis ekonomi dan juga menurunya investasi . Jadi, bukan hanya tuntutan hak buruh yang harus menanggung beban dan terus dipersalahkan.

Momentum hari buruh internasional 1 Mei 2010 menjadikan peran buruh dapat lebih diberdayakan. Buruh dapat memperbaiki nasibnya  seperti kata seniman Wijie Tukul yang juga aktivis buruh yang sampai saat ini  raib entah kemana, ”Nasib buruh ditangan buruh itu sendiri bukan di meja SPSI.” Selamat memperingati May Day, salam rakyat pekerja. ***

foto: Antara


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s