DAMPAK TEKNOLOGI INFORMASI

Oleh : Irwan Wisanggeni

Koran Jakarta, 23-Januari-2010


TEKNOLOGI akan menjadi raja dimana-mana. Begitulah kira-kira perkiraan yang sering dilontarkan para ahli ekonomi dan teknologi. Perkiraan itu belakangan kian menuai bukti. Cakupannya pun meluas, menyebar ke semua sendi kehidupan, termasuk ranah pribadi.

Dalam bukunya The World is Flat yang baru diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, sang penulis Tom Friedman sudah meramalkan hal itu.

Friedman menggambarkan bagaimana teknologi digital mampu menghapus jarak antarnegara. Pertukaran informasi dan transaksi perdagangan bisa dilakukan langsung, hanya dalam hitungan detik.

David M Smick dalam bukunya Kiamat Ekonomi Global juga mengakui kekuatan teknologi. Dia menyebutnya sebagai revolusi cybernetic (komputer) yang mampu mengubah ekonomi menjadi suatu kekayaan global, utamanya saat pasar saham melambung di ketinggian baru dan beritanya cepat tersebar. Menit berikutnya informasi keambrukan juga bisa langsung didapat. Teknologi menyebabkan pengaruh suatu kondisi langsung bisa terasa hanya dalam hitungan menit.

Dalam skup lebih lokal, Indonesia sudah membuktikan lewat kasus dukungan Bibit Chandra dan Prita Mulyasari. Melalui facebook yang tentu saja berkaitan dengan penyebaran informasi lewat internet, dukungan masyarakat terus mengalir. Pengumpulan koin keadilan untuk membantu kasus Prita, disebutkan Wicaksono – salah satu penggagas gerakan ini – mencapai lebih dari Rp1 miliar. Semua itu terjadi dan bisa menyebar cepat karena teknologi.

Mengubah dunia bisnis

Tak bisa disangkal, pengaruh teknologi telah menyusup ke semua sendi kehidupan. Mulai dari internet hingga sistem telepon dan kabel digital.

Dunia bisnis pun berubah. Inovasi teknologi membuat para wirausahawan dan perusahaan mampu menciptakan produk jasa baru,mengembangkan model bisnis baru,menggoncang industri lama, dan akhirnya mengubah cara berbisnis sehari-hari.

Bisnis musik berubah drastis. Penjualan dengan cara tradisional kini mengalami penurunan. Munculnya iPod, MP3, MP4, dan sejenisnya membuat penjualan kaset dan CD menurun drastis. Periode 1996 hingga 2006 saja disebutkan telah terjadi penurunan lebih dari 60%

Munculnya penyewaan DVD online dan unduh gratis juga telah mengubah model lama distribusi film melalui bioskop.

Dunia periklanan pun mulai berganti konsep dari surat kabar ke iklan online. Kabarnya salah satu operator telepon di Indonesia sudah tak mau lagi membayar iklan di media cetak. Alasan yang dikemukakan berkaitan dengan klaim ramah lingkungan (penggunaan kertas). Namun ada sumber yang terang-terangan mengungkap, itu karena respon iklan di dunia maya lebih banyak dan cepat.

Manajemen perusahaan juga berubah. Canggihnya alat komunikasi membuat mereka lebih cepat memperoleh informasi untuk menunjang pengambilan keputusan.

Washington Post menulis, ponsel canggih sekarang memiliki kemampuan mengelola data yang lebih hebat dari pada Komando Pertahanan Udara Amerika Serikat pada tahun 1965.

Intinya, semua keputusan penting dan transaksi bisnis kini dapat dengan mudah dilakukan, karena adanya dukungan teknologi.

Sampai akar rumput

Penerapan teknologi komunikasi lewat ponsel jelas bukan barang aneh lagi. Riset Market Intellegence Center seperti pernah dimuat di harian Bisnis Indonesia meramalkan pengguna ponsel di dunia pada 2011 akan mencapai 4,5 miliar.Washington post dalam laporannya menyebutkan, ”Sekarang ada satu ponsel untuk setiap orang di bumi”.

Ramalan itu mungkin sudah hampir terwujud. Di Albania tidaklah aneh melihat seseorang lanjut usia menunggang keledai sambil mengobrol lewat ponsel,

Di India seorang pengemis bisa berhenti meminta-minta sejenak untuk bertelpon seluler. Di Indonesia bukan lagi pemandangan aneh jika di pinggang seorang pengamen terselip telepon genggam.

Di Afganistan, data 2008 menyebutkan ada sekitar 140.000 pelanggan baru perbulan.

Bagaimana dengan Indonesia? Asosiasi Importir Seluler Seluruh Indonesia menyebutkan, pada 2009 mereka telah mengimpor 35 juta ponsel. Tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 40 juta telepon genggam. Rata-rata merupakan ponsel produksi China dengan harga Rp1 jutaan.

Sementara tu, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia menyebutkan perkiraan, pada 2011, akan ada 100 juta pengguna ponsel di ndonesia.

Sudah tentu penggunaan ponsel akan dikuti kenyataan melek internet. Dan semua itu akan mengubah wajah dunia. Baik itu di bidang informasi, bisnis, kebiasaan masyarakat, bahkan ranah pribadi.

Mudarat teknologi

Manfaat dari perkembangan teknologi tak perlu lagi diragukan. Namun jika ada manfaat, tentu ada pula mudarat.

Kita mulai dari skup kecil keluarga dan pribadi. Kasus bullying lewat internet bisa terjadi dimana-mana dan menimpa anak-anak hingga orang dewasa. Bentuknya bermacam-macam, biasanya dikirim lewat email. Pada anak kecil bisa dalam bentuk pengiriman gambar porno, pada orang dewasa bisa berupa pornografi sampai upaya memunculkan kebencian yang berkaitan dengan RAS.

Teknologi juga merasuki kehidupan rumah tangga. Di satu sisi mempermudah komunikasi, di sisi lain juga menjauhkan. Masing-masing asyik dengan permainan teknologi, hingga akhirnya menaikkan tingkat perceraian.

Baru-baru ini ada penelitian di Inggris yang menyatakan angka perceraian meningkat sejak ditemukan jejaring sosial pertemana n Facebook.

Dari segi psikologis dan kesehatan, teknologi juga bisa membuat Anda menjadi lebih individual dan kecanduan. Akibatnya kemudian berlanjut ke kesehatan fisik. Kurang bergerak menyebabkan kasus obesitas, jantung, dan penyakit gula di dunia meningkat.

Pengunaan SMS sewaktu mengemudi juga bisa memunculkan masalah. Sebuah penyelidikan terhadap kecelakaan kereta api pada 2008 yang menewaskan 25 orang di Kalifornia, AS, menyingkapkan bahwa sang masinis tengah mengirim SMS beberapa detik sebelum tabrakan. Dia tidak sempat lagi mengerem.

Di bisnis musik, penurunan penjualan kaset dan CD bukan melulu karena nilai positif datangnya sebuat teknologi. Tapi juga berkaitan pemanfaatan teknologi untuk melakukan pembajakan. Bayangkan kecanggihaan peralatan bisa membuat pengkopian musik ke ribuan CD dan kaset hanya dalam hitungan menit.

Teknologi dan negara

Dalam pusaran lebih besar, Negara kini harus sudah mulai memikirkan UU Cyber Crime. Apalagi Indonesia masih juga menduduki peringkat 5 besar dalam hal kejahatan dunia maya. Mulai dari pembobolan kartu kredit sampai penipuan pembelian lewat online. Di satu sisi kehebatan hacker dan cracker Indonesia diakui, di sisi lain memunculkan persoalan berkaitan dengan image dan keseriusan penanganan hukum di Indonesia.

Michael Backman dalam buku yang sempat menghebohkan pada pertengahan 2008, Asia Future Shock, menyebutkan, internet dimanfaatkan oleh rezim-rezim otoriter Asia untuk menguping, memburu para pembangkang. Mereka menelusuri lewat alamat IP yang bisa mendeteksi komputer si pengirim hingga menyusup ke kalangan rumah tangga.

Ini mengingatkan pada novel 1984 yang terbit pertamakali pada 1949. Penulisnya George Orwell berkhayal, pada 1984, teknologi akan mengontrol kehidupan manusia. Tak ada lagi privacy, karena Negara mengatur semua sendi kehidupan hingga ke kamar tidur. Tentu kisah khayalan Orwell ini akan menjadi sangat mengerikan jika benar-benar terjadi.

Lepas dari khayalan Orwell, kini China tengah berkonflik dengan mesin pencari Google. Perkaranya, China ingin Google mematuhi aturan negeri tirai bambu untuk membatasi akses, alias akan dilakukan pemblokiran terhadap web atau pun arus informasi yang dinilai bisa membahayakan negara dan memengaruhi masyarakat. Google menolak.

Langkah pemblokiran web oposisi sebenarnya sudah banyak dilakukan Negara-negara di Asia. Antara lain Singapura, Thailand, Burma, dan Malaysia.

Solusi

Berbicara tentang mudarat teknologi, maka penulis berpendapat satu-satunya jalan untuk menangkis ialah dengan memahami dan mengkuti perkembangan teknologi itu sendiri.

Di tingkat keluarga khususnya berkaitan dengan anak-anak, pengawasan orang tua jelas penting. Untuk itu, pengetahuan teknologi tak bisa diabaikan. Sekarang ini, banyak software yang bisa digunakan untuk membendung arus informasi negative lewat nternet. Perkaranya sekarang, maukah Anda mengikuti dan memanfaatkan perkembangan teknologi?

Di lingkaran Negara (tentu dengan pemikiran positif) tak ada jalan lain selain melakukan tindakan yang sama, memahami teknologi tu sendiri. Di gerakan bawah tanah, kemampuan hacker dan cracker Indonesia tak perlu lagi diragukan. Namun di dunia nyata, harus kita akui kesadaran dan kemampuan aparat hukum serta para birokrat masih sangat lemah.

Munculnya kekuatan teknologi informasi lewat dukungan Bibit Chandra dan kasus Prita, seharusnya bisa menjadi tonggak kesadaran: bahwa perkembangan teknologi, mau tidak mau, suka tidak suka harus dikuasai. Karena sesungguhnya teknologi bisa dijadikan apa pun, MANFAAT atau MUDARAT, tergantung pemakainya. Pencegahannya pun mau tak mau berkaitan dengan pemahaman dan penguasaa teknologi itu sendiri.

Di tingkatan ideologis seperti kasus China dan Google, atau pun kasus pemblokiran web-web oposisi oleh pemerintah negara-negara tentangga, pastinya akan menjadi bahan perdebatan panjang hingga kapan pun.

Tapi kita tentunya tidak ingin khayalan Orwell tentang hilangnya ruang pribadi hingga ke kamar tidur, terjadi di Indonesia. Ada cara-cara lebih elegan untuk melakukan penanggulangan mudarat teknologi. Sekali lagi, mau tidak mau, kita sebaiknya menguasai atau setidaknya tahu perkembangan teknologi. ***

foto ilustrasi: technical-illustrations.co.uk

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s