BELAJAR DARI SOE HOK GIE

Koran Tempo 19 Desember 2009

oleh: Irwan

Ada golongan yang tercampak dari kebenaran..Dan berdiri atas nilai kepalsuan. Aku kira tiada bahagia disana. Sebab tiada kasih ,kebenaran dan keindahan Dalam Kepalsuan…

(Penggalan puisi Masyrakat Borjuis – Soe Hok Gie)


KETIMPANGAN sosial terjadi sesuai dengan bentuk zamannya. Ketika midnight sale digelar di mal-mal  Jakarta, saat itu pula intisari puisi Masyarakat Borjuis karya Soe Hok Gie yang dibuat berpuluh tahun lalu tetap mengena.

Bersanding terbalik dengan data dari Departemen Kesehatan yang menyebutkan, pada 2008 ada 5 juta anak kekurangan gizi dan 1,7 juta Balita terancam gizi buruk. Atau lihat juga data dari Badan Pusat Statistik terbaru yang menyebutkan ada sekitar 32, 53 juta masyarakat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.

Membaca tulisan Gie di berbagai surat kabar pada masanya dan juga penggalan pendapat seperti tersirat di buku Catatan Harian Seorang Demonstran, runutan benang merah terus terasa hingga persoalan terkini.

Sekrup pemerintahan

Jauh di masa lampau, Gie telah melihat gejala golongan intelektual yang takut miskin dan akhirnya ikut mendukung bahkan terjebak pada kekuatan-kekuatan partai dan golongan vested interest.

Dalam catatan harian yang sudah dipublikasikan, Gie mengatakan, “sekarang kebanyakan intelektual telah menjadi teknokrat alias sekrup-sekrup dalam roda pemerintahan…Kaum intelektual pada gilirannya dipergunakan lagi oleh pemerintah untuk membela beleidnya atau sebagai solidarity maker…ternyatalahlah pemerintah memang berusaha memagar dirinya dengan argumentasi intelektual.”(Catatan Harian Seorang Demonstran, halaman 209).

Soal intelektual yang takut miskin ini, SHG memang enunjukkan banyak kegelisahan. Tulisannya di Harian Mahasiswa Indonesia (18/5/09) berjudul Kuli Penguasa dan Pemegang Saham mempersoalkan peran Tehnokrat (ex aktivis mahasiswa angkatan 66) dalam Hegemoni militer pada masa Orde Baru.

Sebagai lawan dari intelektual yang memilih menjadi teknokrat, Gie kemudian menyebut para cendeikiawan bebas dengan istilah freelance intellegentia. Dia sendiri akhirnya dengan sadar menjaga jarak dengan pemerintah, keluar dari magnet kekuasaan, tetap bersikap netral memilih menjadi dosen sejarah di almamaternya Fakultas Sastra  UI.

Ditarik ke persoalan terkini, bisalah digambarkan, berapa banyak cendekiawan yang masuk dalam kategori sekrup teknokrat? Jumlahnya pasti lebih dari 20 jari kaki dan tangan.

Tapi jika ditanya berapa banyak yang masuk dalam istilah freelance intellegentia, akan memunculkan perenungan sendiri.

Barangkali yang bisa dijadikan contoh ialah almarhum Munir yang pernah menolak tawaran Amien Rais menjadi Jaksa Agung alias memilih tetap dipinggir. Sebelumnya Munir juga menolak beberapa tawaran jabatan dari partai-partai pemenang pemilu.

Berkali-kali saat diwawancara wartawan dia memberi alasan, “Ada proses yang lebih penting ketimbang penguatan dari sisi  pemerintah tanpa kontrol dari masyarakat. Dan pilihan politik saya tetap dimasyarakat.”

Intelektual muda

Di generasi angkatannya, kalangan aktivis hingga anak muda sekarang, nama Soe Hok Gie tidaklah asing. Browsing saja di internet atau coba lihat jaringan sosial facebook. Pemikiran-pemikiran Gie mengilhami begitu banyak tulisan. Penggalan pendapat dan puisi kritik sosialnya banyak dikutip dan dibahas. Pun puisi-puisi cinta Soe Hok Gie.

Gie kemudian menjadi seperti dikultuskan. Menjadi gambaran ideal anak-anak muda. Catatan hariannya dibukukan, kisah hidupnya difilmkan, dan kata-katanya sering dijadikan semacam pegangan.

Terlepas dari itu, kumpulan tulisan SHG yang dimuat diberbagai surat kabar pada masanya menunjukan keluasan wawasan dan keragaman bidang yang menjadi pengamatanya.

Skripsi Gie yang telah dibukukan dan diberi judul Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan masih menjadi refrensi dan perhatian penggiat serta penulis sosial.

Baru-baru ini, Achmad Safii Maarif, mantan ketua PP Muhammahiyah pun melihat relevansi itu dan  mengutip untuk tulisannya berjudul Gas dan Rem (Kompas 8-Agustus-2009).

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari tokoh intelektual muda yang tewas (14/12/69) dalam pendakian di puncak Mahameru (3.646 dpl) ini. Tulisan maupun sepak terjangnya  masih penad (relevan) untuk terus  digali dan dipelajari angkatan muda dan aktivis mahasiswa pada khususnya.

SHG adalah salah satu tokoh kunci mahasiswa di Fakultas Sastra Universitas Indonesia ketika melakukan perlawanan terhadap rezim Soekarno pada dekade 1960-an.

Tulisan Gie tajam, menggugah, dan seringkali sinis. Tak jarang keterus-terangannya menuai permusuhan dari oknum yang dikritik. Gie bukannya tak sadar itu. Tapi dia telah bersikap. Katanya, ”Lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan.”

Satu lagi kata-kata yang banyak dikutip dan terus mengilhami anak-anak muda zaman sekarang.

Refleksi Gie

Refleksi 40 tahun kematian SHG (17 Desember 1942 -14 Desember 2009) menjadi momentum untuk gerakan mahasiswa saat ini yang sepertinya kehilangan arah dan daya juang.

Masih banyak persoalan bangsa yang perlu menjadi pekerjaan rumah bagi aktivis mahasiswa saat ini karena reformasi 98 yang tidak berjalan sesuai dengan cita-cita awal.

Padahal untuk reformasi tersebut darah mahasiswa telah manjadi tumbal.Empat mahasiswa Universitas  Trisakti, Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hendiawan Sie, Heri Hartanto tewas diterjang peluru.

Bagaimana pun, mahasiswa Indonesia sebagai pelopor reformasi bertangung jawab secara moral atas kegagalan reformasi terutama dalam bidang mensejahterakan ekonomi masyarakat Indonesia secara luas.

Mahasiswa adalah agen perubahan. Perjuangan masih panjang. Perjuangan di segala bidang, termasuk yang paling gres kasus KPK, membongkar mafia peradilan, pun mendesak DPR menguak skandal Bank Century.

Mengenang 40 tahun kematian pejuang mahasiswa yang kerempeng – julukan SHG dari mahasiswa seangkatan di almamaternya, maka penulis ingin menyampaikan pada semua mahasiswa Indonesia untuk terus menjaga energi dinamisnya.

Tetap bersikap kritis, melakukan kontrol pada jalannya pemerintahan dari waktu ke waktu. Seperti dikatakan Pramoedya Anantatoer sastrawan, “Mahkota sebuah bangsa adalah pemuda dan perubahan ada pada generasi muda.”

Begitulah adanya peran mahasiswa. Kekecewaan terhadap perubahan yang terjadi dari sebuah perjuangan sebelumnya, bukan berarti harus terhenti.

Sebagai Pemuda Gie pun melakukan itu. Tetap berjuang di tengah kekecewaan, kesepian, ketakutan dan harapan, sampai maut menjemput di Puncak Mahameru.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s