Kelakar dan Mimpi Prof Sofyan S Harahap

*** Irwan Wisanggeni, Majalah News Letters FE Usakti April 2012

Telepon pagi hari ini begitu mengagetkan saya, seorang civitas akademi FE Usakti, mengatakan kepada saya ” Bang, Profesor Sofyan meninggal.” Saya langsung terdiam dan menengadah kelangit-langit. Pikiran saya menerawang, merenungi kepergian mendadak Sang Profesor.
Disaat itu saya teringat kata-kata Pramudya Anantatoer sehubungan dengan “pemikiran dan sepak terjang seseorang”, Pram mengatakan ” Pemikiran dan Sepak Terjang seseorang akan tetap hidup walau dia sudah mati”, apa benar ucapan ini?. Setelah saya renungkan mungkin ada benarnya kata-kata Pram.

Kenangan para mahasiswa yang pernah diajar oleh Profesor Sofian S Harahap pasti terus melekat. Pemikiran-pemikirannya yang menerebos sanubari dan penad. Saya secara pribadi jika bertemu dengan beliau selalu ingin bertanya, beliau selalu berkata ” Mana tulisan kau untuk majalah FE Usakti dan Ekonomi Syariah”, jika berdiskusi soal ilmu ekonomi baik diruang kelas ataupun di lorong-lorong kampus, Prof selalu menekan soal ekonomi kerakyatan yang berbasis Syariah. Kadang saya berbeda pendapat dengan Profesor dalam diskusi soal ini, tapi beliau menanggapi dengan kalimat kelakar.
Di Universitas Padjajaran Bandung, saya pernah bertemu dengan sahabat Prof waktu kuliah di AS, Dr J Ginting namanya, beliau selalu menitipkan salam kepada saya untuk Prof, “sampaikan salam hormat saya untuk Prof Sofyan ya dik, saya sangat menghormati pemikiran beliau”. Ketika saya ke gedung DPR, didalam gedung DPR seseorang memberi salam kepada saya dengan berseloroh, ” Nah ini dia, anak buah Prof Sofyan pakar ekonomi Syariah.” Dari semua kejadian diatas yang saya alami, jelas kata-kata Pram memang benar adanya. Manusia dikenang karena pemikiran dan sepakterjangnya.

Profesor Sofyan juga demikian. Ia dikenal dan dikenang karena pemikiranya soal Ekonomi Syariah dan sepak terjangnya yang teguh memegang prinsip. Terakhir saya bertemu Prof diruang dekan FE Usakti, dia bertanya” Apakah kau, sudah bertemu dengan pak AB ?’, saya jawab ” belum Prof, beliau sulit ditemui”. dia berseloroh ” Selama Pak AB belum ke akhirat pasti dapat ditemui”, saya tertawa atas kelakar Prof, tapi rupanya itulah kelakar beliau yang terakhir untuk saya. Sekarang tak ada lagi yang meminta artikel saya untuk FE Usakti dan majalah Syariah dan tak ada lagi tawa renyah sang guru besar FE Usakti.

Mimpi Profesor Sofian adalah menjadikan perekonomian Indonesia lebih Prorakyat dan memperkecil peran kapitalisme dengan berbasiskan Ekonomi Syariah, semoga mimpi ini terwujud. Wualualam..**

Menelusuri Kemolekan Perut Bumi Buniayu

Di Xenadu tempat Kubilai bersabda/ dimana sungai tak berujung /dan laut tanpa matahari. ( Expedisi Gua: Sanctum)

Majalah News Letters FE Usakti
Kegiatan di alam bebas semakin berkembang. Mendaki gunung sudah sangat dikenal, meniti tebing terjal, bahkan menginjak puncak gunung es atau salju kini bukan lagi merupakan suatu impian. Ada satu kegiatan lain dialam bebas yang mulai berkembang, yaitu penelusuran gua atau caving. Penulis dan kawan-kawannya yang sama-sama punya hobi bertualang dialam bebas melakukan aktivitas telusur Gua Buniayu, Sukabumi.
Gua Buniayu tergolong gua wisata yang sudah dikelolah dengan sistem manajemen PERHUTANI. Walau sebagian orang merasa enggan untuk mendekati lubang gelap mengangga. Tapi Gua Buniayu justru kerap didatangi oleh parah penelusur gua karena Gua Buniayu memiliki keunikan dan keindahannya tersendiri.
Perjalanan menuju Gua Buniayu, dari Jakarta dimulai jam 8 pagi, sekitar 3 jam kami berlima sampai kota Sukabumi, istirahat untuk makan siang lalu melanjutkan ke arah Segaraanten. Setelah 1 jam sampailah di Nyalindung dan akan dijumpai pertigaan kearah Nyilindung dan Segaranten, pilih jalur Segeraanten. Sekitar 1,5 kilometer akan dijumpai pintu gerbang gua Buniayu. Dari pintu gerbang masuk sekitar 500 meter dan sampailah dilokasi wisata gua buniayu. Kendaraan pribadi yang kami tumpangi berjalan tidak terlalu cepat, dengan kecepatan rata-rata 60-80 kilometer perjam.
Kami disambut oleh parah pegawai PERHUTANI yang sekaligus menyewakan peralatan caving dan memberikan arahan singkat kepada kami sehubungan dengan medan gua buniayu. Kami berlima memang tidak terlalu asing dengan kegiatan caving, sehingga kami semua sibuk bertanya soal medan dan kondisi gua kepada pengelola gua, dari soal kedalaman lobang vertikal yang akan kami turuni sampai dengan berapa jumlah ornamen-ornamen gua.
Kami semua berkemas mengganti pakaian kami dengan menggunakan pakaian spesial caving yang memang sudah disediakan, lengkap dengan helm dan senter kepala. Kami sangat bersemangat sekali untuk segera memasuki Gua Buniayu dan teringat kata almarhum Norman Edwin (MAPALA UI), ”Mengapa mereka ingin memasuki gua ?”, jawabanya, ”Adalah suatu kepuasan bagi seorang penelusur gua, bila lampu yang dibawahnya merupakan sinar yang pertama yang akan mengungkapkan sebuah pemandangan yang menakjudkan dibawah tanah.”

Patholing
Dari pos PERHUTANI tempat menyewa peralatan caving, kami berjalan menuju mulut gua, sekitar 15 menit kami sampai dimulut gua, peralatan sudah disiapkan untuk masuk dan menuruni mulut gua.
Untuk masuk ke gua buniayu, kami perlu menuruni lubang vertikal (Patoling), tehnik Single Rope Technique (SRT). SRT hanya menggunakan satu tali tunggal dan menggunakan prinsip pemindahan beban ketika menuruni tali tersebut. Semua peralatan untuk penurunan lubang vertikal ini sudah disediakan tinggal kita membayar sewanya pada pihak pengelola gua (PERHUTANI).
Lubang gua yang menjadi mulut gua berbentuk seperti botol, sehingga seperti mengelantung ketika masuk Gua Buniayu. Kami turun satu-persatu, kurang lebih 17 meter sampai 20 meter tegak lurus (vertikal) jarak dari mulut gua sampai ke dasar gua.
Kami berlima memakai senter kepala (head lamp) satu pemandu dari pihak pengelola gua menggunakan senter kepala dengan menggunakan bahan bakar karbit. Jadi cukup terang untuk dapat melihat pemandangan perut bumi Buniayu yang begitu menawan.

Karst
Setelah berada didasar gua kami mulai melihat pemandangan batuan jenis gamping, karst dengan komposisi dominan kalsium karbonat sehingga berwarna putih kekuningan. Pada atap gua mengantung stalagtit yang berwarna putih kehitaman, noda hitam mungkin berasal dari kotoran kelalawar atau sejenis tanah yang mengucur dari atas goa. Bau pengab gua tidak terasa karena tersihir oleh indahnya stalagtit yang bertaburan menggantung di atap gua.
Kami terus menelusuri gua dan berjalan didalam gua yang berair sebatas betis, karena menggunakan sepatu karet dengan tinggi hampir sedengkul, maka kaki tetap nyaman dan kering.
Keindahan gua mulai nampak jelas ketika kami melihat ornamen-ornamen yang berbentuk bunga dan berwarna putih berkelap-kelip karena adanya unsur fosfor dalam ornamen ini seperti kaca terkena simbahan sinar, sungguh menakjubkan. Jumlah ornamen berbentuk bunga ini kurang lebih dua puluhan berukuran beraneka ragam ada yang 5 meter x 3 meter, 10 x 5 meter, atau 15 meter x 8 meter berwarna putih dan mengkilap.
Dalam gua kami bertemu dengan pecinta alam dari Universitas Parahyangan Bandung yang sedang melakukan pemetaan gua, kami berdiskusi sebentar soal kondisi gua dan teknik penelusuran gua ini.
Medan lumpur didalam gua buat kami sangat unik. Sebagai tukang jalan ke puncak-puncak gunung, terus terang agak kesal berjalan dilumpur kehitaman, kadang terjeblos sampai kedengkul, hingga saat kaki diangkat terasa berat dan berbunyi ”ceproot”. Kalau sekali dua kali ceprat-ceprot, mungkin tidak masalah, tapi kalau puluhan menit harus injak lumpur, kaki tenggelam, kaki diangkat, lalu tenggelam lagi dengan bunyi ceprot-ceprot-ceprot entah berapa kali, agak kesal juga namun hati tetap senang karena melihat keindahan stalagmit yang berwarna putih kehitaman yang bermunculan di samping dinding gua yang berlumpur.
Terakhir medan yang menantang yang harus dilalui adalah tebing setinggi 8 meter tegak lurus dan tebing ini berdinding dua jadi salah satu dari kami harus memanjat dahulu dengan menggunakan tehnik menghimpitkan badan di cela dinding gua dan kaki menapak kedepan dinding gua (Chimneying), cukup berat tapi dapat dilalui dengan baik. Salah satu dari kami sampai diatas terlebih dahulu dan melemparkan tali dan tangga alumunium agar dapat anggota tim memanjat dinding ini dengan mudah.
Setelah lima jam kami menelusuri gua yang bersuhu 25 derajat Celsius, kami sampai di lubang keluar gua tersebut yang letaknya ditengah kebun dan berjarak kurang lebih 30 menit dari posko PERHUTANI tempat kami memulai perjalanan.
Gua Buniayu memang tempat yang luar biasa, pemandangan ornamen gua, stalagtit, stalagmit juga batuan sungai bawah tanah menjadi cerita yang menarik yang mengggantikan rasa lelah yang didera dari penelusuran gua ini.
Bagi penggemar kegiatan alam bebas dan menyukai pemandangan, Gua Buniayu adalah objek wisata yang perlu dikunjungi karena letaknyapun tidak terlalu jauh. Dalam penulusuran gua ini penulis mengingatkan soal prinsip-prinsip konservasi. Setiap buangan yang yang ditinggalkan akan merusak lingkungan biologis gua yang sangat rapuh, misalnya sampah karbit. Bawalah semua sampah-sampah keluar goa, setiap kerusakan yang ditimbulkan oleh penelusur adalah tindakan tercela, karena untuk merusakan benda-benda dalam gua misalnya stalagmit dan stalagtit hanya butuh berapa detik saja, sedangkan proses pembentukan benda-benda tersebut membutuhkan waktu ribuan tahu.
Maka semboyan; take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time, (jangan mengambil apapun, kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan bunuh apapun kecuali waktu) terasa semakin berarti. Selamat mencoba gua wisata Buniayu dan nikmati kemolekan perut bumi.***

2012, Ekonomi Prorakyat

Irwan Wisanggeni, Dosen dan Alumnus Magister Akuntansi Trisakti

Koran Jakarta 28/11/2011

Menjelang 2012, para ekonom sibuk membuat pernyataan dengan sejumlah prediksi. Ada yang optimistis, ada juga yang pesimistis. Ada yang menggulirkan prediksi bahwa ekonomi Indonesia 2012 bertumbuh 6,3 persen sampai 6,7 persen. Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi selalu dikaitkan dengan penanaman modal asing (PMA), sementara penamanan modal asing ini sebagian besar dikaitkan dengan negara-negara Eropa dan AS.

Kita sepakat Eropa dan AS sedang mengalami krisis ekonomi sejak 2007. Bahkan baru-baru ini (16/10), di Times Square New York (Wall Street), sekelompok pengangguran berjumlah 14 juta orang berdemonstrasi atas kesulitan ekonomi yang dihadapi mereka. Mereka mengusung poster bertuliskan “Them Belly Full, We are Hungry” yang kalau diterjemahkan artinya kira-kira “perut mereka penuh, perut kita keroncongan”.

Ulah elite bisnis di Wall Street yang ditata dengan apik oleh regulator Washington membuat para kapitalis berbisnis dengan menipu di seluruh dunia. Penyebabnya sederhana. Majalah Newsweek dengan sederhana menjawab, “meminjam secara gila-gilaan.” Cermin ketidakpuasan terhadap situasi ekonomi sekarang juga terjadi di Hong Kong karena ekonomi negara itu berkiblat pada negara kapitalisme Barat.

Di Hong Kong, para aktivis juga melakukan aksi demonstrasi. Tujuan kecaman mereka adalah sebuah kenyataan bahwa Hong Kong sebagai pusat keuangan Asia justru lebih menjadi sarang segelintir elite untuk memperkaya diri. Gelombang demo ketidakpuasan juga terjadi di Sydney, Australia, dan Tokyo. Mereka mengkritisi pebisnis dan politisi yang dikatakan eksis hanya untuk melayani segerlintir elite, bukan mewakili kepentingan rakyat. Penulis beranggapan dari situasi di atas, rasanya sulit jika pada 2012 kita berharap PMA dari negara Eropa dan AS.

Dinosaurus Menunggu Mati
Bersanding terbalik dengan aksi demo di atas, beberapa narasi terkenal dikembangkan oleh penganjur gagasan globalisasi, seperti Kenichi Ohmae dalam The End of Nation State (1992). Ia menganalogikan dinosaurus yang menunggu mati dengan kegagalan negara dalam mengontrol dan melindungi nilai mata uang, juga tidak melakukan aktivitas ekonomi riil.

Tesis Ohmae dilanjutkan oleh Thomas L Friedman dalam The Lexus and The Olive Treed dan The World is Flat (2006). Di dalam tesis itu digambarkan hadirnya dunia abad ke-21 yang telah “diratakan (flat)” untuk menjadi arena mata rantai produksi global. Setiap orang, perusahaan, dan pemerintah terus memikirkan peluang yang menguntungkan guna memperbaiki nasib.

Peraih Nobel, Joseph E Stiglitz (Free Fall, 2010) dan Paul R Krugman (The Return of Economic Depresion, 2010), bersilang pendapat dan telah menisbikan tesis Ohmae dan Friedman. Stiglitz berpendapat keruntuhan Lehman Brother, September 2008, menandai berakhirnya kapitalisme pasar bebas. Krugman beropini negara yang selama ini dianggap sebagai pangkal masalah justru bergeser menjadi sumber masalah.

Kapitalisme pernah dijadikan jalan untuk memakmurkan, tapi kenyataannya kapitalisme belum berhasil mengentaskan rakyat dari kemiskinan dan pengangguran, bahkan pengangguran mengalami pembengkakan dari tahun ke tahun. Di negara-negara kapitalisme seperti di AS, pengangguran meningkat 10 persen, Jerman 9,1 persen, Spanyol 45,7 persen, dan Yunani 38,5 persen. Semua persentase dihitung dari jumlah angkatan kerjanya.

Ketika melaporkan tanda-tanda pemulihan di AS, Financial Times berkelakar, “Pemulihan sejak 2009 boleh dinamai ‘kecewa besar’.” Koran itu menambahkan, “Banyak ekonom menilai bahwa utang yang harus dibayarkan akan menekan daya beli hingga beberapa tahun mendatang.” Begitu juga secara makroekonomi, sistem kapitalisme mengalami kondisi yang memprihatinkan, misalnya proporsi utang Yunani terhadap produk domestik bruto mencapai 140 persen.

Di AS, utang negara mencapai 14,3 triliun dollar AS, setara dengan PDB Amerika Serikat. Cepat atau lambat, wabah krisis ekonomi akan menjalar ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Artinya, imbas krisis ekonomi Eropa dan AS akhirnya sampai ke negara seperti Indonesia, Vietnam, Th ailand, China, dan India, yang sulit menjual produk ekspornya ke Eropa dan AS karena krisis ekonomi.

Tahun 2012, diperlukan terobosan untuk dapat lolos dari krisis ekonomi global terhadap ekonomi nasional. Pada zaman lampau, dunia pernah mendapat tawaran frontal dalam memukul kapitalisme. Tawaran itu terlontar dari ide Karl Max yang berambisi menohok kapitalisme dengan menggelontorkan sebuah logika yang kemudian menjadi gerakan. Kapitalisme yang sekarat akan melahirkan revolusi proletar untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas.

Tapi, berbagai krisis yang terjadi malah seakan-akan menjadi pupuk penyubur dan pelanggeng sistem ekonomi yang dicetuskan oleh Adam Smith itu. Walau kegagalan kapitalisme itu diakui oleh umum, kapitalisme, harus diakui, menciptakan kenikmatan individual dan kesejahteraan ekonomi secara kolektif. Tetapi, kita paham bahwa kapitalisme menghadirkan kesenjangan.

Kekayaan satu korporasi nyaris sama sengan kekayaan sejumlah negara miskin. Sistem kapitalisme dan sosialisme memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Semua sudah dicoba, dan gagal memakmurkan masyarakat secara luas. Karena itu, diperlukan suatu cara yang lebih cerdas guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang dapat memakmurkan rakyat secara adil. Apakah jatuh pilihannya pada sistem ekonomi syariah yang akhir-akhir ini cukup marak gaungnya dan diperbincangkan di kalangan ekonom, semuanya masih perlu diuji dan ditelaah lebih dalam.

Sebenarnya, untuk mencegah krisis ekonomi dan memakmurkan rakyat, ekonom tak perlu berpolemik soal sistem ekonomi kapitalisme, sosialisme, syariah, atau apa pun. Seperti ungkapan yang diucapkan Den Xiaoping, “Tak penting kucing hitam atau kucing putih, yang penting kucing itu bisa menangkap tikus.” Demikian juga di mata rakyat, tak penting sistem apa pun yang diterapkan, yang penting bisa membuat rakyat makmur, terpenuhi segala kebutuhannya.

Cita-cita luhur para pendiri bangsa Indonesia hanyalah membangun sistem ekonomi prorakyat yang berkeadilan dan humanistis yang tampak dari pasal-pasal yang terkait dengan ekonomi di UUD 1945 walau sampai saat ini masih jauh antara harapan dan kenyataannya.

Pajak Lingkungan

Pajak Progresif

Sosialisme,Kapitalisme,Syariah dan Kemiskinan Struktural

ANGKA kemiskinan di Indonesia data terakhir menunjukan angka yang membuat hati kita miris.Memang sumber statistik resmi (Biro Pusat Statistik)jumlah orang miskin tahun 2010 adalah 31,02 juta jiwa atau 13,33 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 238 juta jiwa.

Bahkan DR B Herry Priyono (dosen Program Pasca Sarjana Driyakarya) memaparkan dalam opini di koran Kompas  baru-baru ini menunjukan angka yang lebih dasyat lagi dimana warga Indonesia yang bertahan hidup dengan penghasilan kurang dari Rp.18.000 perhari pada tahun 2010 ini berjumlah 121,7 juta jiwa,ini bukan berita baru ,kita telah lama menghabiskan waktu bersitegang tentang itu.

Kita menghela nafas kecewa ketika melihat angka kemiskinan yang begitu besar.Memang pemerintah berusaha melakukan bantuan-bantuan dengan program jaring pengaman sosial dan  bantuan raskin(beras miskin) tapi program ini tidak mengobati penyakit kemiskinan dengan tepat guna dan tepat sasaran,karena orang miskin dari tahun ketahun terus bertambah.

Sejarah sistem ekonomi Indonesia yang lebih dari 65 tahun merdeka,memakai sistem ekonomi berbasis sistem ekonomi Pancasila yang pada hakekatnya sangat positif dan memihak pada ekonomi kerakyatan.

Kapitalisme dan Sosialisme

Dalam tingkat pelakasanannya sistem ekonomi Indonesia lebih “miring”ke kapitalisme atau kapitalisme malu-malu( meminjam istilah Prof DR Arief Budiman,Guru besar dari Melbourne University),dan sistem yang condong ke kapitalisme sejak masa Orde Baru,karena pada masa itu hubungan Indonesia sangat mesra dengan bapaknya kapatalisme dunia Amerika Serikat.

Tapi sistem ekonomi kapatalisme tidak lagi dapat diharapkan terlalu banyak untuk menaklukan kemiskinan yang terjadi di Indonesia.

Karena sistem ini bagaikan raksasa yang sedang limbung,Global Financial Krisis(GFC) di Amerika Serikat yang mulai melanda diawal kwartal ketiga tahun 2008.

Penyebab dari GFC adalah kredit perumahan yang macet di perusahaan-perusahaan raksasa seperti  Lehman Brothers dan  dampaknya masih dirasakan sampai sekarang.GFC bisa dikatakan buah dari sistem ekonomi kapitalisme.Apakah mainstream sistem ekonomi kapatalisme dunia mulai goyah?Sebagian orang sudah mulai meragukan akan kehebatan sistem ekonomi kapitalisme yang dianut Amerika Serikat  dan dunia barat pada umumnya.

Tidak dipungkiri bahwa Indonesia juga menjadi negara terpengaruh negatif atas  GFC sehingga kondisi dan pertumbuhan perekonomian nasional memburuk yang tentunya merambah keberbagai sektor ekonomi.

Kapitalisme sudah dicoba dan gagal ,sebagai contoh,peran sistem ini di Indonesia ialah,IMF(International  Monetary Fund) tetap mengambil peranya di kiprah perenomian internasional.IMF adalah salah satu lambang kapatalisme global yang bertujuan membantu negara-negara dengan paket bantuanya.

IMF memberikan saran praktis terhadap negara-negara yang meminta bantuanya, termasuk Indonesia misalnya beberapa subsidi dicabut,BUMN diprivatisasi dan itu terjadi sampai saat ini .tapi semua kebijakan itu tidak bisah melepas bangsa Indonesia dari hantu kemiskinan.

Kepada sistem sosialisme kitapun tidak mungkin mengharapkan untuk dapat mengatasi kemikinan  karena komunisme dan sosialisme telah berakhir,sistem yang di tawarkan Karl Marx ini gagal dengan runtuhnya Republik Sosialis Uni Soviet tahun 1990 dimana Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet setuju untuk melepaskan monopoli atas kekuasaan.

Ekonomi Syariah

Sekarang pilihanya jatuh pada sistem ekonomi Syariah yang belum pernah dicoba untuk diterapkan secara masif dalam sekala ekonomi makro Indonesia untuk bisa menjebol batu karang kemiskinan yang menindih bangsa kita dari masa kemasa.

Dalam surat Al-Mai’dah(5):2 dijelaskan disana:”…Dan tolong-menolonglah dalam(mengerjakan)kebajikan dan takwa,dan janganlah tolong-menolong dalam(mengerjakan)dosa dan pelanggaran…”( dikutip ayat suci ini dari buku Islamic Management Prof Dr H Veitshal Rivai,MBA).

Jelas dari makna ayat tersebut mengandung suatu nilai dan semangat gotong royong dan kerjasama yang baik,penulispun yakin ada banyak ayat-ayat suci di Al Quran yang dapat memberikan dasar pada sistem ekonomi syariah dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia.

Jika ditelaah memang dasar konsep pembiayaan di sistem ekonomi syariah dapat sangat membantu ekonomi kecil dalam hal ini ekonomi kelas rakyat,misalnya sistem bagi hasil mencerminkan semangat memikul resiko bersama.

Penulis pernah bertanya dengan seroang pakar ilmu syariah dan juga praktisi di bank syariah,soal peran ekonomi syariah terhadap kemiskinan yang terjadi di Indonsia?Jawabannya ekonomi syariah kedepan akan terus berkembang dan pastinya akan memberikan solusi dari tantangan kemiskinan yang terjadi di Indonesia.

Walaupun dalam diskusi itu tidak dijawab secara teknis tapi penulis dapat merasakan ada semangat dalam sistem ekonomi syariah untuk membantu rakyat miskin dengan berbagai sistem yang ditawarkan oleh perbankan syariah.

Sebagai pembanding,Muhamad Yunus seorang bankir dari Banglades yang mengembangkan konsep ekonomi mikro, mengembangkan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu ke bank umum.Yunus mengimplementasikan gagasan ini dengan mendirikan Grameen Bank dan Yunus mendapatakan hadiah nobel tahun 2006.

Semangat  Muhamad Yunus mungkin dapat ditiru oleh bank pembiayaan syariah untuk memberdayakan orang-orang miskin.

Ekonomi syariah memang ilmu ekonomi yang baru berkembang dan masih terus dikaji untuk bisa berperan lagi dimasyarakat khusunya membantu memberdayakan orang miskin.

Penulis yakin kedepannya sistem ekonomi syariah akan menjawab tantangan untuk bisa membantu mengentaskan kemiskinan struktural di Indonesia.

*Irwan Wisanggeni

Wacana Radar Banten 7-5-2011

illustration: ramirobenko.dancersblogs.com

Menyoal

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.